Pagi di kaki Gunung Cikuray dingin, dan warga Cigedug punya cara lama untuk menghangatkannya: nyaneut. Nyaneut Garut, tradisi ngeteh Sunda dengan teh kejek di kaki Cikuray, bukan sekadar kebiasaan minum teh. Ia dipakai untuk berkumpul, bertukar kabar, dan menjaga hubungan dengan kebun. Teh yang diseduh pun istimewa. Daunnya diinjak dengan kaki, lalu disangrai di atas kayu bakar.
Panduan ini merangkum apa yang bisa diverifikasi dari liputan media dan jurnal ilmiah: asal-usul, proses pembuatan, tata cara minum, hingga ancaman yang membayanginya.
Ringkasan: Nyaneut adalah tradisi minum teh masyarakat Sunda di Desa Cigedug, Kabupaten Garut. Tehnya berjenis teh hijau yang diolah manual lewat proses penginjakan. Asal-usul pastinya belum tercatat resmi, dan produksi teh kejek menyusut karena alih fungsi lahan. Satu studi laboratorium Universitas Garut menemukan cara tradisional menghasilkan kadar fenolik dan flavonoid lebih tinggi daripada cara yang dimodifikasi mesin.
Apa Itu Nyaneut Garut dan Teh Kejek?

Nyaneut adalah tradisi minum teh masyarakat Sunda di Desa Cigedug, kaki Gunung Cikuray, Garut. Teh yang dipakai adalah teh kejek, teh hijau tradisional khas Cigedug yang daunnya diinjak saat pengolahan. Menurut Good News From Indonesia, tradisi ini membantu warga menghangatkan badan dari udara dingin pegunungan.
“Kejek” dalam bahasa Sunda berarti diinjak. Mongabay Indonesia mencatat arti itu dan menjelaskan bahwa daun teh memang diolah manual dengan cara diinjak-injak.
Dua istilah ini sering tertukar, jadi bedakan dulu:
- Nyaneut adalah kebiasaan atau ritual minumnya.
- Teh kejek adalah jenis tehnya.
Ejaan di media berbeda-beda. Mongabay menulis “nyaeut”, sementara sebagian besar sumber lain menulis “nyaneut”. Artikel ini memakai “nyaneut” karena paling banyak muncul di sumber akademik.
Untuk konteks lebih luas tentang tradisi yang bertahan di tengah perubahan zaman, lihat bahasan tentang budaya tradisional yang tetap hidup di era digitalisasi.
Dari Mana Asal Nyaneut? Sejarah yang Belum Tuntas

Tidak ada catatan resmi tentang kapan teh kejek pertama kali dibuat. Good News From Indonesia (2022) menulis bahwa asal-usulnya belum terdokumentasi, dan Mongabay juga menyebut belum ada kepastian data soal sejarah teh kejek.
Yang ada adalah dugaan. Dua sumber menyebut nama yang sama: Karel Frederik Holle, pengusaha perkebunan Belanda.
- Good News From Indonesia (2017) menulis bahwa Holle membuka perkebunan teh di Cigedug dan Bayongbong pada abad ke-19.
- Good News From Indonesia (2022) menyebut dugaan bahwa teh kejek bermula dari kebun Waspada yang dirintis Holle di wilayah Cikajang dan Cigedug pada 1865.
- Pegiat budaya Garut, Dasep Badrusalam, menduga teh kejek lahir dari kolaborasi Holle dengan para pekerjanya.
Sumber lain memberi angka waktu yang berbeda. Liputan6 mencatat teh hijau pertama kali masuk ke Garut sekitar 1827. Jurnal Farmako Bahari dari Universitas Garut menyebut teh kejek bertahan lebih dari 200 tahun. Studi di jurnal gastronomi UPI menempatkan keberadaannya sejak masa kolonial.
Kesimpulan jujurnya: periode kolonial hampir pasti menjadi latar, tetapi tahun dan pelaku pastinya masih dugaan. Jangan menulis “teh kejek ditemukan pada 1865” sebagai fakta tunggal.
Nama kawasan sekitarnya juga membawa jejak itu. Di Perkebunan Teh Dayeuhmanggung, Kecamatan Cilawu, ada kampung yang dikenal sebagai Kampoeng Amsterdam. Lokasinya sekitar 19 kilometer dari pusat Kota Garut, menurut Good News From Indonesia (2021).
Mengapa Teh Kejek Diinjak? Proses Pembuatan Langkah demi Langkah

Teh kejek termasuk teh hijau, jadi tidak melalui fermentasi panjang seperti teh hitam. Yang membedakannya adalah tahap penggulungan: daun diinjak dengan kaki, bukan digulung mesin.
Jurnal Farmako Bahari (Universitas Garut, 2021) mendokumentasikan proses di Pabrik Teh Kejek “Pak Oos”, Desa Cigedug. Penelitinya mencatat langkah, suhu, dan durasi secara rinci.
| Tahap | Apa yang dilakukan | Catatan dari studi |
| 1. Pemetikan dan sortasi basah | Daun dipilih dan dipilah | Daun sampel berasal dari kebun PTPN VIII Dayeuhmanggung |
| 2. Pelayuan | Daun dilayukan dengan sinar matahari | Tujuannya agar daun lentur dan tidak hancur saat digulung |
| 3. Pemanasan pertama | Daun disangrai di wajan besi, diaduk dengan pengaduk kayu | 15 kg daun, wajan berdiameter 100 cm, sekitar 60 menit, suhu sekitar 100 °C |
| 4. Penginjakan | Pekerja bersepatu khusus menginjak daun secara memutar | Wadah semen sepanjang sekitar 2 meter dengan kemiringan sekitar 60 derajat |
| 5. Pemanasan kedua | Daun dipanaskan kembali dengan api lebih kecil | 30 sampai 40 menit, sekitar 70 °C |
| 6. Pemanasan akhir | Daun diaduk cepat agar tidak gosong | 5 sampai 10 menit, sekitar 30 °C, selesai saat aroma wangi keluar |
| 7. Sortasi kering | Daun diayak dengan tiga ukuran saringan | Menghasilkan kelas mutu lokal Pekoe 1, 2, dan 3 |
Pengiriman panas di wajan memakai kayu bakar, bukan listrik. Mongabay dan Good News From Indonesia sama-sama menekankan bahwa pengolahan masih tradisional.
Penginjakan punya fungsi teknis. Menurut pembahasan di jurnal yang sama, injakan mengeluarkan cairan sel daun, termasuk enzim yang berperan pada senyawa polifenol. Daun mengecil, menggumpal, dan mengeluarkan getah.
Berapa Hasil dari 100 Kilogram Daun Basah?

Studi yang sama mencatat rendemen dari 100 kg daun teh basah. Angkanya menunjukkan betapa banyak daun yang dibutuhkan untuk sedikit teh kering.
| Kelas mutu | Bobot | Rendemen |
| Pekoe 1 | 3,3 kg | 3,3% |
| Pekoe 2 | 7,9 kg | 7,9% |
| Bubuk teh | 6,5 kg | 6,5% |
| Batang teh | 2,5 kg | 2,5% |
| Total | 20,2 kg | 20,2% |
Pekoe 1 dan 2 dijual ke pasar di pusat Kota Garut. Bubuk dan batang umumnya dijual murah kepada warga setempat, menurut jurnal itu.
Perlu dicatat: angka ini berasal dari satu proses produksi yang didokumentasikan peneliti. Rendemen di pabrik lain atau musim lain bisa berbeda.
Data Riset: Tradisional vs Modifikasi Mesin

Tim peneliti Universitas Garut membandingkan tiga cara pengolahan teh kejek. Pertama, cara tradisional. Kedua, penginjakan diganti mesin giling sederhana. Ketiga, pemanasan wajan diganti oven. Suhu dan waktu disamakan.
| Perlakuan | Fenolik total (mg GAE) | Flavonoid total (mg QE) | Aktivitas antioksidan (IC50) |
| Tradisional | 31,38 | 14,38 | 12,89 |
| Mesin giling | 30,00 | 12,83 | 20,38 |
| Oven | 26,61 | 13,84 | 15,11 |
Cara membaca tabel ini: untuk IC50, angka lebih kecil berarti aktivitas antioksidan lebih kuat. Cara tradisional punya fenolik dan flavonoid tertinggi, dan IC50 terendah. Penulis jurnal menyimpulkan pengolahan tradisional menghasilkan teh dengan kandungan senyawa fungsional lebih tinggi pada sampel tersebut.
Batasannya penting. Ini studi laboratorium atas satu sampel produksi. Hasilnya tidak membuktikan efek kesehatan pada peminum, dan tidak berarti semua teh kejek lebih sehat daripada teh lain. Jangan memakainya sebagai klaim medis.
Studi yang sama juga mencatat sisi lain. Cara modifikasi menghasilkan kadar sari larut air dan etanol yang lebih tinggi, sedangkan cara tradisional memberi rendemen lebih tinggi. Jadi tidak ada pemenang mutlak di semua ukuran.
Cara Nyaneut yang Benar, Step by Step

Berikut urutan prosesi nyaneut seperti dijelaskan Good News From Indonesia (2017). Tata cara bisa sedikit berbeda antar keluarga atau acara.
- Rebus air sampai matang.
- Pindahkan air ke poci tanah liat.
- Masukkan teh kejek sekitar satu sendok makan ke dalam poci.
- Diamkan sebentar supaya teh meresap.
- Tuang ke gelas. Sumber tahun 2025 menyebut penyajian dalam teko dan gelas bambu.
- Putar gelas di telapak tangan dua kali.
- Hirup aroma teh tiga kali.
- Seruput teh perlahan.
Perhatikan bahwa teh tidak langsung diminum. Putaran dan hirupan memperlambat ritme, dan itu bagian dari maknanya. Lama waktu seduhan tidak dirinci di sumber yang saya periksa, jadi ikuti arahan tuan rumah.
Nyaneut juga biasanya ditemani obrolan. Mongabay mencatat tradisi ini digelar sebelum warga berangkat ke huma (ladang) dan sesudah bekerja.
Makna Sosial: Teh sebagai Pengikat Silaturahmi

Good News From Indonesia (2025) menggambarkan nyaneut sebagai media berkumpul dan bersilaturahmi, terutama bagi petani dan pekebun teh. Dasep Badrusalam, pegiat budaya Garut, menekankan sisi sosial yang sama dalam Mongabay: nyaneut bukan soal nikmat teh saja.
Ia juga menyampaikan kekhawatiran yang bisa dikutip singkat. Menurutnya, dari nyaneut “keselarasan sosial dan alam tercipta”.
Ada juga kajian yang mengaitkan nyaneut dengan nilai religius. Sebuah skripsi di repository UIN Siber Syekh Nurjati meneliti penggunaan ayat Al-Qur’an dalam tradisi nyaneut di Cigedug. Ini menunjukkan tradisi tersebut tidak berdiri hanya sebagai kebiasaan minum.
Pola serupa muncul di banyak tradisi Nusantara: kegiatan harian yang tampak sederhana membawa fungsi sosial dan spiritual. Kalau Anda tertarik pada sisi ini, bacaan tentang ritual kuno dengan makna yang dalam melengkapi konteksnya.
Festival Nyaneut: Dari Kebiasaan Harian ke Perayaan Tahunan

Nyaneut awalnya kebiasaan sehari-hari. Dasep Badrusalam sendiri mengatakan kepada Mongabay bahwa nyaneut sebenarnya digelar setiap hari. Belakangan ia dijadikan festival.
Good News From Indonesia (2025) mencatat beberapa fakta festival:
- Festival diinisiasi oleh budayawan Garut, Dasep Badru Salam.
- Tujuannya mengenalkan ritual minum teh khas Garut sekaligus melestarikan budaya lokal Cigedug.
- Festival digelar setahun sekali, saat bulan purnama, di kaki Gunung Cikuray.
Festival ini juga menjadi ruang bicara lingkungan. Good News From Indonesia (2017) mencatat bahwa pada festival 2016 dibahas alih fungsi lahan hutan yang masif di Gunung Cikuray.
Tanggal pasti festival tahun ini tidak saya temukan di sumber yang bisa diverifikasi. Karena mengikuti bulan purnama, jadwalnya bergeser tiap tahun. Cek pengumuman resmi Pemerintah Kabupaten Garut atau dinas pariwisata setempat sebelum merencanakan perjalanan.
Ancaman: Lahan Teh Menyusut, Pabrik Tinggal Sedikit

Tradisi ini bergantung pada teh. Dan di situlah masalahnya.
Beberapa sumber mencatat tekanan yang sama:
- Jurnal Farmako Bahari (2021) menulis bahwa teh kejek dulu diproduksi ratusan pabrik, tetapi saat itu hanya tersisa satu yang masih beroperasi.
- Mongabay menyoroti kebun teh yang beralih menjadi kebun sayur, dan menyebut data Dinas Perkebunan Jawa Barat 2015 bahwa luas kebun teh rakyat di Garut menurun tajam.
- Liputan6 menulis bahwa peningkatan lahan pertanian dengan mengorbankan kebun teh membuat produksi teh hijau Garut terus turun.
- Mongabay mengutip Dasep yang mengatakan tradisi minum teh perlahan ditinggalkan sebagian masyarakat.
Perhatikan keterbatasan datanya. Angka “satu pabrik” berasal dari publikasi 2021, dan Mongabay memakai data 2015. Kondisi hari ini mungkin sudah berubah. Jangan mengutip angka itu sebagai situasi 2026 tanpa pengecekan ulang ke pelaku usaha atau dinas terkait.
Masalah serupa terjadi pada banyak warisan budaya lain. Pembahasan tentang mengapa kesenian tradisional bisa punah bila dibiarkan memperlihatkan polanya: ketika sumber ekonomi hilang, tradisi ikut hilang.
7 Fakta Kunci Nyaneut dan Teh Kejek

Bagian ini merangkum temuan penting dalam bentuk ringkas, masing-masing dengan sumbernya.
- Lokasi inti. Nyaneut dikenal di Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Garut (Good News From Indonesia; Jurnal Farmako Bahari).
- Jenis teh. Teh kejek tergolong teh hijau, bukan teh hitam (Jurnal Farmako Bahari, 2021).
- Arti nama. “Kejek” berarti diinjak dalam bahasa Sunda (Mongabay Indonesia).
- Alat saji. Poci tanah liat dan, menurut sumber 2025, teko serta gelas bambu (Good News From Indonesia).
- Gerakan khas. Gelas diputar dua kali, aroma dihirup tiga kali, lalu diseruput (Good News From Indonesia, 2017).
- Waktu minum. Pagi hari, dan menurut Mongabay sebelum berangkat ke ladang serta sesudah bekerja.
- Festival. Digelar setahun sekali pada bulan purnama di kaki Cikuray (Good News From Indonesia, 2025).
Daftar ini sengaja tidak memuat harga atau peringkat “terbaik”. Saya tidak menemukan data harga teh kejek yang bisa diverifikasi, dan menuliskannya tanpa sumber akan melanggar prinsip artikel ini.
Panduan Praktis bagi yang Ingin Berkunjung

Informasi lapangan paling cepat basi. Karena itu bagian ini hanya memuat yang punya sumber, dan sisanya kamu perlu cek langsung.
Yang bisa dipastikan dari sumber:
- Cigedug berada di kaki Gunung Cikuray, Kabupaten Garut.
- Perkebunan Teh Dayeuhmanggung, Kecamatan Cilawu, yang pernah menjadi sumber daun untuk studi teh kejek, berjarak sekitar 19 km dari pusat Kota Garut (Good News From Indonesia, 2021). Kawasan itu juga menyimpan peninggalan Belanda yang dikenal sebagai Kampoeng Amsterdam.
- Udara kaki gunung dingin, sehingga bawa pakaian hangat adalah saran masuk akal.
Yang perlu dicek sebelum berangkat:
- Apakah pabrik teh kejek menerima kunjungan dan jam operasionalnya.
- Jadwal festival tahun berjalan.
- Biaya, akses jalan, dan kondisi cuaca.
Hubungi dinas pariwisata atau pemerintah desa setempat. Jangan mengandalkan unggahan lama di media sosial untuk jam buka atau harga.
Kalau Anda gemar menjelajah tradisi yang masih dijalankan langsung oleh komunitas, Seba Baduy adalah contoh lain dari tradisi masyarakat Banten yang masih berjalan. Cek dulu etika berkunjung ke komunitas adat sebelum datang.
Cara Ikut Menjaga Tradisi Nyaneut

Pelestarian tidak harus rumit. Beberapa langkah yang masuk akal dan selaras dengan temuan di atas:
- Beli teh langsung dari produsen lokal bila ada kesempatan, supaya uang sampai ke pengrajin.
- Pelajari dulu tata caranya sebelum ikut nyaneut, agar tidak menjadikannya tontonan semata.
- Dukung dokumentasi. Karena asal-usul teh kejek belum tercatat, pengarsipan oleh warga dan akademisi sangat berarti.
- Pertahankan konteks sosialnya. Nyaneut bermakna karena dilakukan bersama.
- Peduli lahan. Alih fungsi kebun teh adalah tekanan terbesar yang disebut berbagai sumber.
Soal kesalahan umum yang sering terjadi saat orang berniat melestarikan adat, ulasan tentang kesalahan fatal saat melestarikan adat istiadat memberi pengingat yang berguna.
Ada pula kabar dari sisi pangan tradisional lain. Tempe, makanan fermentasi khas Indonesia, telah diajukan ke UNESCO pada 2026. Status warisan seperti itu bisa menjadi pelajaran bagi upaya mengangkat teh kejek.
FAQ: Nyaneut Garut dan Teh Kejek
Apa itu Nyaneut Garut, Tradisi Ngeteh Sunda dengan Teh Kejek di Kaki Cikuray?
Nyaneut adalah tradisi minum teh masyarakat Sunda di Desa Cigedug, Garut, di kaki Gunung Cikuray. Tehnya teh kejek, teh hijau tradisional yang daunnya diinjak saat diolah. Tradisi ini berfungsi menghangatkan badan sekaligus mempererat silaturahmi warga.
Bagaimana cara nyaneut yang benar?
Rebus air, pindahkan ke poci tanah liat, lalu masukkan sekitar satu sendok makan teh kejek. Tuang ke gelas, putar gelas di telapak tangan dua kali, hirup aromanya tiga kali, lalu seruput perlahan. Urutan ini mengacu pada Good News From Indonesia.
Kapan Festival Nyaneut digelar?
Menurut Good News From Indonesia (2025), festival digelar setahun sekali saat bulan purnama di kaki Gunung Cikuray. Tanggal pastinya berubah tiap tahun, jadi cek pengumuman resmi Pemerintah Kabupaten Garut.
Apakah teh kejek termasuk teh hijau?
Ya. Jurnal Farmako Bahari (2021) menggolongkan teh kejek sebagai teh hijau, karena proses pengolahannya tidak melalui fermentasi panjang seperti teh hitam.
Mengapa teh kejek diinjak?
Penginjakan menggantikan penggulungan. Menurut pembahasan jurnal Universitas Garut, injakan mengeluarkan cairan intraseluler daun dan membentuk gulungan. Penginjakan dilakukan di wadah semen miring oleh pekerja bersepatu khusus.
Apakah teh kejek lebih sehat?
Satu studi laboratorium menemukan kadar fenolik dan flavonoid pada teh kejek tradisional lebih tinggi daripada versi yang dimodifikasi mesin. Studi itu tidak menguji efek kesehatan pada manusia, jadi jangan menganggapnya klaim medis.
Kesimpulan
Nyaneut menunjukkan bagaimana satu kebiasaan sederhana bisa membawa sejarah, ekonomi, dan hubungan sosial sekaligus. Teh kejek menjadi bahan utamanya, dan proses penginjakannya yang tidak lazim membuat tradisi ini mudah dikenali.
Ada tiga hal yang perlu diingat. Pertama, asal-usul pastinya belum tercatat resmi. Kedua, studi Universitas Garut memberi bukti ilmiah awal untuk keunggulan metode tradisional, dengan batasan yang jelas. Ketiga, kelangsungannya bergantung pada kebun teh dan pengrajin yang kian sedikit.
Kalau Anda berencana ke Cigedug, datanglah dengan sikap belajar, dan cek ulang jadwal serta akses sebelum berangkat.
Ditulis oleh Redaksi sisco78dvd. Seluruh fakta dalam artikel ini bersumber dari publikasi yang disebutkan di bawah.
Sumber:
- Good News From Indonesia, “Nyaneut, Tradisi Minum Teh Ala Sunda di Kaki Gunung Cikuray” (2017): https://www.goodnewsfromindonesia.id/2017/01/10/nyaneut-tradisi-minum-teh-ala-sunda-di-kaki-gunung-cikuray
- Good News From Indonesia, “Festival Nyaneut, Ritual Minum Teh Khas Garut” (2025): https://www.goodnewsfromindonesia.id/2025/02/07/festival-nyaneut-ritual-minum-teh-khas-garut
- Good News From Indonesia, “Teh Kejek Asal Garut: Teh Legendaris dengan Proses Pembuatan Diinjak” (2022): https://www.goodnewsfromindonesia.id/2022/09/20/teh-kejek-asal-garut-teh-legendaris-dengan-proses-pembuatan-diinjak
- Good News From Indonesia, “Intip Kampung Amsterdam, Jejak-Jejak Peninggalan Belanda di Garut” (2021): https://www.goodnewsfromindonesia.id/2021/05/22/intip-kampung-amsterdam-jejak-jejak-peninggalan-belanda-di-garut
- Mongabay Indonesia, “Mereka yang Setia Mempertahankan Kearifan Lokalnya” (2017): https://mongabay.co.id/2017/11/09/mereka-yang-setia-mempertahankan-kearifan-lokalnya/
- Liputan6, “Teh Hijau Garut dan Candu Budaya Nyaneut”: https://www.liputan6.com/regional/read/4021888/teh-hijau-garut-dan-candu-budaya-nyaneut
- Syamsudin dkk., “Pengaruh Metode Pemrosesan terhadap Karakteristik, Kadar Fenol, Kadar Flavonoid dan Aktivitas Antioksidan Teh Tradisional Garut (Teh Kejek)”, Jurnal Ilmiah Farmako Bahari 12(1), 2021: https://journal.uniga.ac.id/index.php/JFB/article/download/898/887/2872
- Latip & Rahmaniar, “Ethnoscience Studies on The Tradition of Nyaneut Kejek Tea in Cigedug Village, Garut Regency”: https://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/iser/article/view/49407
- Hamidah dkk., “Preservation of Kejek Tea as a Gastronomic Legacy of Garut Regency”, Journal of Gastronomy Tourism: https://ejournal.upi.edu/index.php/gastur/article/download/22798/pdf


