Ringkasan: Festival Payung Indonesia (FESPIN) XIII digelar 4–6 September 2026 di Taman Balekambang, Solo, dengan lebih dari 3.000 seniman dari 41 kota dan lima negara Asia. Tahun ini jumlah pertunjukan naik dari sekitar 90 menjadi 160 pertunjukan, tersebar di tiga panggung — lompatan skala yang jarang dicapai festival budaya rakyat di Indonesia.
Apa itu Festival Payung Indonesia?

Festival Payung Indonesia (FESPIN) adalah festival tahunan yang mengangkat payung tradisi sebagai medium seni dan budaya, digelar sejak 2014 oleh MATaYA Arts & Heritage di Taman Balekambang, Solo. Pada 2026, FESPIN memasuki edisi ke-13 dengan tema “Catra Padi, Sepayung Dewi Sri”, mengangkat ketahanan pangan dan mitologi Dewi Sri sebagai jembatan diplomasi budaya Asia.
Payung di sini bukan sekadar pelindung hujan. Ia jadi kanvas — dilukis, dirajut, disulam, ditempel perca — lalu dipamerkan berdampingan dengan pertunjukan tari, musik, dan fashion show. Festival ini juga berperan sebagai etalase kerajinan tradisional, mirip semangat yang terlihat pada kerajinan tradisional seperti gerabah Kasongan — sama-sama mengangkat kriya lokal ke panggung yang lebih luas.
Mengapa FESPIN XIII Penting di 2026?

Skala FESPIN tahun ini melompat signifikan dibanding edisi-edisi sebelumnya. Menurut Heru Prasetya, Direktur Mataya Art and Heritage sekaligus pendiri festival, dalam dialog di RRI Surakarta pada 26 Agustus 2026, jumlah pertunjukan naik dari sekitar 90 menjadi 160 pertunjukan yang berlangsung tiga hari di tiga panggung berbeda di kawasan Taman Balekambang.
Skala pesertanya juga lebih besar dari catatan tahun sebelumnya. Pada edisi 2024, karya lebih dari 1.400 seniman ditampilkan menurut liputan Tempo. Tahun ini, RRI melaporkan lebih dari 3.000 seniman dari 41 kota di Indonesia ikut serta, ditambah peserta dari Thailand, Jepang, Korea Selatan, dan India. Lonjakan ini sejalan dengan status FESPIN yang masuk TOP 10 Event Terbaik dalam Kharisma Event Nusantara 2026 versi Kementerian Pariwisata.
Ada juga dimensi diplomasi budaya yang makin ditonjolkan. FESPIN menjalin hubungan sister-festival dengan Bo Sang Umbrella Festival di Chiang Mai, Thailand, sejak 2018, dan tahun ini kolaborasi lintas negara itu terasa lebih kental lewat kehadiran perupa asing seperti Sachiyo Sakakibara dari Jepang yang menampilkan karya fashion design.
Perkembangan FESPIN: 2024 vs 2026

Tim redaksi menelusuri catatan penyelenggaraan FESPIN dari liputan resmi beberapa tahun terakhir untuk melihat arah pertumbuhannya. Berikut perbandingannya:
| Metrik | FESPIN 2024 | FESPIN XIII 2026 | Sumber |
|---|---|---|---|
| Jumlah seniman | 1.400+ | 3.000+ | Tempo (2024), RRI (2026) |
| Asal kota/negara | Berbagai daerah Indonesia | 41 kota + Thailand, Jepang, Korea Selatan, India | RRI (2026) |
| Jumlah pertunjukan | ~90 (edisi sebelumnya) | 160 | RRI (2026) |
| Jumlah panggung | Tidak dirinci | 3 panggung | RRI (2026) |
| Lokasi | Taman Balekambang, Solo | Taman Balekambang, Solo | Tempo, RRI |
| Durasi | 6–8 September (3 hari) | 4–6 September (3 hari) | Tempo, Atourin |
Sorotan Utama FESPIN XIII 2026

- Tema Catra Padi, Sepayung Dewi Sri. Payung dipadukan dengan mitologi Dewi Sri untuk mengangkat isu ketahanan pangan dan hubungan manusia dengan alam.
- Parade Payung Nusantara. Rangkaian acara dibuka dengan parade payung yang melibatkan komunitas kreatif dari berbagai daerah.
- Pameran Payung Sulam Nusantara. Karya sulam dari perupa dan pengrajin berbagai daerah, mengubah kain payung jadi kanvas cerita.
- Lebih dari 100 perajin payung rajut dari berbagai daerah turut ambil bagian dalam pameran dan workshop.
- Sekitar 50 payung lukis karya mahasiswa seni lukis murni Universitas Sebelas Maret (UNS) dipamerkan.
- Peluncuran antologi buku “Catra Padi”. Berisi 50 esai terpilih yang mengupas sosok dewa-dewi kesuburan lintas budaya, dibedah dalam sarasehan pada Sabtu, 5 September 2026 pukul 10.00–12.00 WIB.
- Partisipasi lintas negara. Seniman dari Thailand, Jepang, Korea Selatan, dan India tampil berdampingan dengan seniman Indonesia, menegaskan posisi FESPIN sebagai jembatan diplomasi budaya Asia — semangat yang juga tercermin pada gelaran budaya lain seperti Festival Budaya Lembah Baliem yang mengangkat identitas budaya lokal ke panggung nasional.
Cara Mengikuti Festival Payung Indonesia 2026 — Panduan untuk Pengunjung
- Catat tanggal dan lokasi. FESPIN XIII berlangsung 4–6 September 2026 di Taman Balekambang, Solo, Jawa Tengah.
- Rencanakan hari kunjungan sesuai minat. Jika tertarik diskusi literasi, datang Sabtu 5 September untuk sarasehan dan bedah buku “Catra Padi” pukul 10.00–12.00 WIB.
- Ikuti Parade Payung Nusantara di hari pembuka untuk melihat ratusan payung karya komunitas kreatif diarak keliling taman.
- Jelajahi tiga panggung pertunjukan yang menampilkan total 160 pertunjukan tari, musik, dan fashion show selama tiga hari.
- Kunjungi Pameran Payung Sulam Nusantara dan pameran payung lukis UNS untuk melihat detail teknik kriya secara langsung.
- Ikuti workshop interaktif — melukis, merajut, atau menyulam payung — jika ingin mencoba teknik pembuatannya sendiri.
- Mampir ke Pasar Festival dan pasar kuliner yang menghadirkan produk craft dan fashion dari pelaku UMKM serta komunitas kreatif.
Bagi yang tertarik pada isu pelestarian budaya secara lebih luas, festival semacam ini kerap berjalan beriringan dengan agenda pelestarian lain, misalnya pengajuan tempe ke UNESCO yang juga sedang menjadi perhatian tahun ini, atau tradisi tahunan seperti Grebeg Suro Ponorogo yang sama-sama mengandalkan partisipasi komunitas akar rumput.
FAQ — Festival Payung Indonesia (FESPIN) 2026
Apa itu Festival Payung Indonesia?
FESPIN adalah festival tahunan sejak 2014 yang mengangkat payung tradisi sebagai medium seni dan budaya, digelar oleh MATaYA Arts & Heritage di Taman Balekambang, Solo.
Kapan dan di mana FESPIN XIII 2026 berlangsung?
FESPIN XIII digelar 4–6 September 2026 di Taman Balekambang, Solo, Jawa Tengah, dengan tema “Catra Padi, Sepayung Dewi Sri”.
Berapa banyak seniman yang terlibat di FESPIN 2026?
Menurut RRI Surakarta, lebih dari 3.000 seniman dari 41 kota di Indonesia ikut serta, ditambah peserta dari Thailand, Jepang, Korea Selatan, dan India.
Apakah FESPIN gratis untuk dikunjungi?
Sumber yang tersedia belum merinci ketentuan tiket masuk secara resmi; disarankan mengecek akun Instagram resmi @festival_payung_indonesia untuk informasi terbaru sebelum berkunjung.
Ditulis oleh Redaksi sisco78dvd, dengan fokus liputan seni dan tradisi Nusantara.


