Ringkasan: Tempe resmi diajukan Kementerian Kebudayaan ke UNESCO sejak akhir Maret 2025, bersama Mak Yong dan Jaranan. Jika ketiganya lolos di sidang akhir 2026, daftar Warisan Budaya Takbenda Indonesia akan bertambah dari 16 menjadi 19 entri — capaian yang belum pernah dicapai dalam satu siklus pengajuan.
Apa itu Pengajuan Tempe ke UNESCO?

Pengajuan Tempe ke UNESCO adalah nominasi resmi Pemerintah Indonesia agar budaya tempe — mencakup pengetahuan fermentasi, praktik komunitas, dan nilai gotong royong di baliknya — masuk Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan UNESCO. Draf nominasi disampaikan Kementerian Kebudayaan pada akhir Maret 2025, dan keputusan penetapan ditargetkan pada sidang komite antarpemerintah akhir 2026.
Mengapa Pengajuan Ini Penting di 2026?

Momentum tahun ini berbeda dari upaya-upaya sebelumnya. Tempe bukan pengajuan tunggal — ia berjalan beriringan dengan dua nominasi lain, yaitu ekstensi Mak Yong bersama Malaysia dan Jaranan yang diusulkan bersama Suriname. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menjelaskan bahwa satu negara hanya boleh mengajukan satu nominasi mandiri per periode dua tahun, sehingga pemerintah memilih tempe sebagai representasi utama Indonesia, sementara dua nominasi lain berjalan lewat skema pengajuan bersama negara lain.
Nilai strategisnya juga bertumpu pada ekosistem ekonomi riil. Kementerian Kebudayaan mencatat ekosistem budaya tempe melibatkan ratusan ribu komunitas dan lebih dari satu juta pekerja di Indonesia — angka yang menjadikan tempe bukan sekadar isu kuliner, melainkan isu penghidupan skala nasional. Di sisi lain, advokasi pengakuan tempe sebenarnya sudah dimulai sejak 2014 oleh Forum Tempe Indonesia, jauh sebelum pengajuan resmi disampaikan ke UNESCO.
Kalau proses ini disandingkan dengan tren digitalisasi budaya lain — misalnya bagaimana AI generatif mulai dipakai memperkuat dokumentasi batik pasca-pengakuan UNESCO — pola yang muncul jelas: pengakuan internasional kini dibarengi strategi promosi digital yang jauh lebih agresif dibanding dekade lalu.
Data Terverifikasi: Status Warisan Budaya Takbenda Indonesia di UNESCO
Sampai penetapan Desember 2024, Indonesia telah memiliki 16 Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Rinciannya sebagai berikut, disusun dari catatan resmi Indonesia.go.id:
| # | Warisan | Tahun Ditetapkan |
|---|---|---|
| 1 | Wayang | 2008 |
| 2 | Keris | 2008 |
| 3 | Batik serta Pendidikan dan Pelatihan Batik | 2009 |
| 4 | Angklung | 2010 |
| 5 | Tari Saman | 2011 |
| 6 | Noken (tas tradisional Papua) | 2012 |
| 7-9 | Tiga Genre Tari Tradisional Bali | 2015 |
| 10 | Kapal Pinisi | 2017 |
| 11 | Pencak Silat | 2019 |
| 12 | Pantun | 2020 |
| 13 | Gamelan | 2021 |
| 14 | Budaya Sehat Jamu | 2023 |
| 15 | Reog Ponorogo | 2024 |
| 16 | Kebaya (bersama Brunei, Malaysia, Singapura, Thailand) | 2024 |
| — | Kolintang | 2024 |
Dengan basis 16 entri itu, tiga nominasi baru untuk siklus 2026 — tempe, ekstensi Mak Yong, dan Jaranan bersama Suriname — jadi alasan konkret di balik proyeksi “19 warisan dunia” yang ramai dibicarakan publik. Proyeksi ini bersyarat: hanya terealisasi penuh jika ketiga nominasi disetujui komite pada sidang akhir 2026, biasanya digelar November atau Desember.
Menariknya, Indonesia baru saja memperkuat posisi tawarnya di forum ini. Pada Juni 2026, Indonesia terpilih sebagai anggota Komite Antarpemerintah untuk Perlindungan Warisan Budaya Takbenda UNESCO periode 2026-2030, mewakili Grup IV Asia-Pasifik bersama Jepang, Filipina, dan Kamboja setelah bersaing dengan enam kandidat. Posisi ini tidak otomatis meloloskan nominasi tempe, tetapi memberi Indonesia kursi lebih dekat dalam proses evaluasi dan penyusunan kebijakan pelestarian budaya global.
Kronologi Pengajuan Tempe ke UNESCO

- 2014 — Advokasi awal: Forum Tempe Indonesia mulai mendorong Kemendikbud agar mengajukan budaya tempe ke UNESCO.
- Akhir Maret 2025 — Pengajuan resmi: Kementerian Kebudayaan menyampaikan draf nominasi budaya tempe ke UNESCO untuk masuk Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan.
- 19 Agustus 2025 — Seminar Budaya Tempe: Kementerian Kebudayaan menggelar seminar untuk memperkuat basis riset dan dukungan publik atas nominasi.
- 21 Desember 2025 — Festival Budaya Tempe: Aktivasi publik berupa fun walk, fun run, dan pameran digelar di Jakarta untuk mengawal proses pengajuan.
- 19 Mei 2026 — Konfirmasi target: Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut tempe dan Mak Yong sebagai dua nominasi utama tahun ini, dengan harapan diinskripsi akhir tahun.
- 17 Juni 2026 — Indonesia masuk komite: Indonesia terpilih sebagai anggota Komite Antarpemerintah UNESCO periode 2026-2030 di Paris.
- 18 Juni 2026 — Hari Tempe Nasional: Momentum tahunan dipakai untuk mengingatkan publik bahwa keputusan penetapan masih ditunggu di akhir 2026.
- Akhir 2026 (proyeksi) — Sidang penetapan: Komite dijadwalkan mengumumkan hasil evaluasi nominasi, biasanya pada sesi November-Desember.
Argumen di Balik Nominasi: Kenapa Tempe Layak Diakui Dunia
Dokumen nominasi yang disusun Kementerian Kebudayaan menonjolkan tiga argumen utama.
Pertama, nilai pengetahuan tradisional. Proses fermentasi tempe menggunakan jamur Rhizopus oligosporus merupakan hasil adaptasi masyarakat terhadap bahan pangan lokal selama berabad-abad, bukan sekadar teknik memasak. Mantan Duta Besar Indonesia untuk UNESCO, Aman Wirakartakusumah, menilai peluang tempe untuk diinskripsi cukup terbuka karena selaras dengan tren pangan sehat global — tempe dikenal sebagai sumber protein nabati berkualitas tinggi.
Kedua, dimensi keberlanjutan. Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, Endah Tjahjani Dwirini Retnoastuti, menyoroti pentingnya inovasi lanjutan, termasuk pemanfaatan kacang-kacangan lokal sebagai bahan baku alternatif tempe di luar kedelai impor.
Ketiga, jejak globalnya. Tempe kini diproduksi dan dikonsumsi di berbagai negara di Asia, Eropa, Amerika Utara, hingga Australia — sebuah perjalanan yang menempatkannya sebagai salah satu superfood dunia sekaligus instrumen diplomasi budaya. Bahkan diaspora kuliner ini menyentuh dimensi hubungan bilateral: sebagian besar kedelai yang dipakai memproduksi tempe di Indonesia berasal dari petani Amerika Serikat, sebagaimana disampaikan pejabat KJRI San Francisco dalam forum promosi budaya tempe di AS.
Bacaan Terkait di Cluster Warisan Budaya UNESCO
Nominasi tempe adalah satu babak dari cerita panjang diplomasi budaya Indonesia di UNESCO. Beberapa warisan lain sudah lebih dulu diakui atau masih menunggu giliran:
- Tempe Menuju UNESCO 2026: Warisan Fermentasi — ulasan awal proses nominasi sebelum konfirmasi keanggotaan komite Juni 2026.
- Pantun yang sudah diakui UNESCO sejak 2020 kini justru viral kembali di kalangan Gen Z lewat format digital baru.
- Gamelan, warisan Nusantara yang diakui UNESCO pada 2021, jadi contoh bagaimana pengakuan internasional berdampak pada pelestarian jangka panjang.
- Dangdut, sebaliknya, masih belum masuk daftar UNESCO — perbandingan ini berguna untuk memahami kriteria apa saja yang membuat satu nominasi lebih siap dari yang lain.
FAQ — Pengajuan Tempe ke UNESCO
Apa itu pengajuan Tempe ke UNESCO?
Nominasi resmi Pemerintah Indonesia agar budaya tempe — pengetahuan fermentasi, praktik komunitas, dan nilai sosialnya — diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan UNESCO, diajukan sejak akhir Maret 2025.
Kapan hasil penetapan tempe di UNESCO diumumkan?
Keputusan ditargetkan pada sidang Komite Antarpemerintah UNESCO akhir 2026, biasanya digelar bulan November atau Desember. Hingga artikel ini ditulis, hasil resmi belum diumumkan.
Berapa total warisan budaya takbenda Indonesia jika tempe lolos?
Indonesia sudah memiliki 16 Warisan Budaya Takbenda UNESCO per akhir 2024. Jika tempe, ekstensi Mak Yong, dan Jaranan (bersama Suriname) ketiganya disetujui pada 2026, jumlahnya bertambah menjadi 19.


