Indonesia Ajukan Tempe Warisan Budaya UNESCO Fermentasi Kedelai Global – Kabar gembira datang dari Kementerian Kebudayaan! Pada akhir Maret 2024, Indonesia resmi mengajukan Budaya Tempe sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO, dengan target penetapan pada tahun 2026. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan optimisme tinggi dalam Festival Budaya Tempe yang diselenggarakan 21 Desember 2025 di Jakarta, menandai momentum bersejarah bagi kuliner tradisional Indonesia.
Tempe bukan sekadar makanan biasa. Berdasarkan data BPS tahun 2022, konsumsi tempe per kapita di Indonesia mencapai 7,3 kg per tahun, menunjukkan betapa eratnya makanan fermentasi ini dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Yang lebih menarik, tempe kini telah ditemukan dan dikonsumsi di 27 negara di seluruh dunia, membuktikan daya tarik global superfood Indonesia ini.
Mengapa pengajuan ini begitu penting bagi bangsa? Mari kita telusuri fakta-fakta menariknya!
Momentum Bersejarah: Pengajuan Resmi Maret 2024

Indonesia Ajukan Tempe Warisan Budaya UNESCO Fermentasi Kedelai Global dilakukan secara resmi pada akhir Maret 2024 melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) ke Sekretariat UNESCO. Pengajuan ini merupakan hasil kerja panjang yang dimulai sejak 2014 oleh berbagai pemangku kepentingan.
Ketua Tim Teknis dari Tim Pengusul, Khoirul Anwar, mengungkapkan bahwa proses pendokumentasian melibatkan masyarakat, pakar budaya, hingga pakar gizi, dengan dokumen yang diperkirakan akan ditetapkan pada 2025 mendatang. Namun berdasarkan pernyataan terbaru pemerintah, target penetapan lebih realistis pada tahun 2026.
Tempe diajukan bersama dengan Teater Mak Yong dan Jaranan sebagai Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan. Pengajuan ini mencakup praktik budaya, pengetahuan tradisional, nilai-nilai sosial, serta peran komunitas dalam menjaga keberlanjutan tempe sebagai warisan hidup yang terus berkembang.
Direktur Perlindungan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek, Judi Wajudin, menyatakan optimisme bahwa Budaya Tempe akan menambah daftar warisan budaya takbenda dari Indonesia yang ada di UNESCO. Saat ini, dokumen pengajuan sedang dalam proses evaluasi oleh Sekretariat Konvensi 2003 UNESCO.
Jejak Sejarah: Bukti Tempe dalam Serat Centhini Abad ke-17

Indonesia Ajukan Tempe Warisan Budaya UNESCO Fermentasi Kedelai Global didukung oleh bukti historis kuat. Satu-satunya bukti kehadiran tempe di tengah masyarakat Jawa muncul dalam Serat Centhini, buku kesusastraan Jawa dari abad ke-16. Naskah ini menjadi fondasi klaim Indonesia sebagai negara asal tempe.
Tim pengusul melakukan penelusuran selama 2-3 tahun untuk menemukan dokumen “Serat Centhini” di Balai Pelestarian Budaya yang ada di Jawa Tengah. Serat Centhini adalah kompilasi legenda, tradisi, dan ajaran Indonesia abad ke-17 yang diterbitkan pada 1815. Dokumen berharga ini menjadi bukti konkret bahwa tempe telah dikonsumsi masyarakat Jawa sejak berabad-abad silam.
Proses fermentasi tempe sendiri merupakan hasil adaptasi masyarakat terhadap lingkungan. Penggunaan jamur Rhizopus oligosporus dalam proses fermentasi menciptakan transformasi luar biasa pada kedelai, meningkatkan kandungan nutrisi dan bioavailabilitasnya. Metode fermentasi tradisional menggunakan daun pisang atau daun jati telah diwariskan turun-temurun, menunjukkan keberlanjutan pengetahuan lokal yang luar biasa.
Untuk informasi lebih lengkap tentang warisan budaya Indonesia, kunjungi sisco78dvd.com yang menyediakan sumber referensi budaya nusantara.
Kekuatan Ekonomi: 81,000 Industri Tempe Nasional

Indonesia Ajukan Tempe Warisan Budaya UNESCO Fermentasi Kedelai Global memiliki dampak ekonomi yang signifikan. Berdasarkan laporan Badan Standardisasi Nasional (BSN) tahun 2012, Indonesia memiliki 81,000 industri tempe yang memproduksi 2,4 juta ton tempe per tahun. Angka ini menjadikan Indonesia sebagai produsen tempe terbesar di dunia.
Data lebih konservatif menyebutkan jumlah unit usaha tempe di Indonesia mencapai lebih kurang 115,000 pengrajin, menunjukkan industri tempe yang tersebar luas di seluruh pelosok nusantara. Sebagian besar pengrajin merupakan usaha keluarga skala kecil yang telah menjalankan bisnis ini secara turun-temurun.
Kacang kedelai yang diolah menjadi produk tahu dan tempe mencapai 90 persen, dengan sisanya diolah menjadi produk olahan pangan lainnya seperti kecap, tauco dan lainnya. Hal ini menggambarkan besarnya nilai ekonomi yang dihasilkan industri tempe nasional.
IKM Rumah Tempe Azaki, salah satu binaan Ditjen IKMA, telah melakukan ekspor ke berbagai negara seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan Amerika Serikat dengan volume ekspor tempe beku mencapai rata-rata 44 ton per bulan pada tahun 2023. Ini membuktikan potensi besar tempe Indonesia di pasar internasional.
Superfood Asli Indonesia: Kandungan Nutrisi Tempe yang Luar Biasa

Mengapa Indonesia Ajukan Tempe Warisan Budaya UNESCO Fermentasi Kedelai Global juga didorong oleh nilai gizinya? Dalam 100 gram tempe mengandung 20,8 gram protein, 8,8 gram lemak, 1,4 gram serat, dan 201 kalori. Kandungan protein ini bahkan lebih tinggi dari daging sapi yang hanya mengandung 17,5 gram protein per 100 gram.
Per 100 gram tempe mengandung 50,5 gram protein, 347 miligram kalsium, 0,85 miligram riboflavin, 4,35 miligram niasin, 0,47 miligram piridoksin, 5 mikrogram vitamin B12, dan 71 mikrogram biotin menurut pakar gizi. Yang paling unik, vitamin B12 biasanya bersumber dari hewani, jadi tempe satu-satunya panganan nabati yang mengandung vitamin B12 dalam jumlah signifikan.
Dalam 100 gram tempe mengandung energi 150 kkal, 14 gram protein, 7,7 gram lemak, 517 miligram kalsium, dan 1,5 mg zat besi berdasarkan data komposisi pangan. Kandungan kalsium tempe yang mencapai 517 mg sangat tinggi, jauh melampaui daging sapi yang hanya 11 mg.
Proses fermentasi membuat nutrisi tempe lebih mudah diserap tubuh. Jamur Rhizopus oligosporus memecah senyawa anti-nutrisi seperti asam fitat yang menghambat penyerapan mineral. Tempe juga mengandung isoflavon yang berfungsi sebagai antioksidan kuat, membantu melindungi tubuh dari radikal bebas.
Mendunia: Tempe di 27 Negara
Indonesia Ajukan Tempe Warisan Budaya UNESCO Fermentasi Kedelai Global semakin relevan karena penyebarannya yang luas. Pembina Forum Tempe Indonesia Made Astawan mengatakan tempe saat ini sudah bisa ditemukan dan dikonsumsi di 27 negara. Penyebaran ini terjadi melalui diaspora masyarakat Indonesia dan hasil berbagai penelitian di dunia.
Dalam karya William Shurtleff dan Akiko Aoyagi, The Book of Tempeh: A Cultured Soyfood, disebutkan bahwa tempe diproduksi di berbagai negara mulai dari Amerika Serikat, Kanada, Meksiko, Belgia, Austria, Republik Ceko, Finlandia, Prancis, Jerman, Irlandia, Italia, Belanda, Portugal, Spanyol, Swiss, Afrika Selatan, India, dan Inggris hingga Australia dan Selandia Baru.
Di Amerika Serikat, tempe populer sejak pertama kali dibuat oleh Yap Bwee Hwa pada tahun 1958. Yap Bwee Hwa merupakan orang Indonesia yang pertama kali melakukan penelitian ilmiah mengenai tempe. Di Jepang, tempe diteliti sejak tahun 1926 dan mulai diproduksi secara komersial sekitar tahun 1983.
Terlebih saat ini, tren vegetarian atau vegan juga semakin populer bersamaan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dunia terhadap pangan yang sehat. Tempe menjadi pilihan protein nabati berkualitas tinggi yang ramah lingkungan dan relevan dengan tren konsumsi berkelanjutan global.
Ironi Indonesia: Produsen Terbesar dengan Kedelai Impor 90%
Meski Indonesia Ajukan Tempe Warisan Budaya UNESCO Fermentasi Kedelai Global, ada tantangan besar yang dihadapi. Mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2023 Indonesia mengimpor sekitar 2,274 juta ton kedelai, sementara kebutuhan nasional setahun mencapai 2,5 juta ton. Artinya, Indonesia harus mengimpor lebih dari 90% kebutuhan kedelai setahun.
Mengutip data Bapanas dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2024, Senin 9 September 2024, sepanjang Januari hingga Juli 2024 Indonesia mengimpor kedelai sebanyak 1,67 juta ton dan sampai akhir tahun diprediksi mencapai 2,4 juta ton. Ketergantungan pada impor ini membuat harga tempe sangat rentan terhadap fluktuasi nilai tukar dan gangguan rantai pasok global.
Pada akhir tahun 2023, saat Laut Merah memanas dan mengganggu kelancaran sistem logistik global, Indonesia juga kena dampaknya. Impor kedelai sempat terganggu dan harga kembali naik. Akibatnya, puluhan ribu perajin tempe-tahu harus menghentikan produksi sementara lantaran tak bisa mendapatkan kedelai di dalam negeri.
Indonesia sebenarnya pernah mengalami swasembada kedelai. Berdasarkan data Kementerian Pertanian dan Gabungan Koperasi Produsen Tempe dan Tahu Indonesia (Gakoptindo), swasembada kedelai terjadi pada tahun 1992 dengan luas lahan mencapai 1,889 juta ha dan produksi hampir dua juta ton. Kondisi ini berubah drastis pasca kesepakatan dengan IMF tahun 1998 yang membuka keran impor lebar-lebar.
Baca Juga Subak Spirit 2025 Bali: Tari Teater “Napak Toya” untuk Pelestarian Air & Budaya
Warisan Hidup yang Perlu Dijaga Bersama
Indonesia Ajukan Tempe Warisan Budaya UNESCO Fermentasi Kedelai Global bukan sekadar pencapaian prestise, tetapi pengakuan terhadap kearifan lokal berusia ratusan tahun yang didukung bukti Serat Centhini. Dengan 81,000-115,000 industri tempe nasional, konsumsi 7,3 kg per kapita per tahun, kandungan protein 20,8 gram per 100 gram yang melampaui daging sapi, dan penyebaran ke 27 negara, tempe telah membuktikan nilai universalnya.
Pengajuan yang dilakukan Maret 2024 dengan target penetapan 2026 membuka peluang besar bagi pengakuan dunia terhadap kontribusi Indonesia dalam khasanah kuliner global. Namun, tantangan ketergantungan impor kedelai 90% mengingatkan kita bahwa keberlanjutan warisan budaya ini memerlukan komitmen semua pihak, terutama dalam peningkatan produksi kedelai lokal.
Festival Budaya Tempe 21 Desember 2025 menunjukkan keseriusan pemerintah dan masyarakat dalam mengawal pengakuan UNESCO. Seperti disampaikan Menteri Kebudayaan Fadli Zon, tempe bukan hanya berkaitan dengan kuliner, tetapi juga mengandung pengetahuan tradisional, nilai-nilai filosofis, serta praktik hidup berkelanjutan.
Dari 6 poin data faktual di atas, mana yang paling menarik perhatianmu? Apakah sejarah Serat Centhini abad ke-17, kandungan protein yang mengalahkan daging sapi, atau ekspansi ke 27 negara? Atau justru keprihatinan terhadap impor kedelai 90%? Share pendapatmu dan mari bersama-sama mendukung tempe sebagai warisan budaya dunia!
Referensi Terverifikasi (Desember 2024-2025):
- Media Indonesia (21 Desember 2025). Festival Budaya Tempe Perkuat Dukungan Publik Menuju Warisan Budaya Takbenda UNESCO 2026
- VIVA (21 Desember 2025). Menbud Targetkan Budaya Tempe Masuk Daftar Warisan Budaya Takbenda Dunia pada 2026
- ANTARA News (Maret 2025). Indonesia Ajukan Tempe, Jaranan dan Teater Mak Yong ke UNESCO
- CNN Indonesia (1 Juni 2024). Tempe Resmi Diajukan Jadi Warisan Budaya Takbenda UNESCO
- ANTARA News (31 Mei 2024). Budaya Tempe Diajukan sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO
- Indonesia.go.id (2024). Strategi Tempe Menembus Mendunia