0 Comments


Ringkasan: Dua gamelan pusaka Keraton Yogyakarta, Kangjeng Kyai Guntur Madu dan Kangjeng Kyai Nagawilaga, resmi ditabuh mulai 20 Agustus 2026 di Pagongan Masjid Gedhe Kauman. Penabuhan ini menyusul prosesi sakral Miyos Gangsa yang digelar sehari sebelumnya, menandai dimulainya rangkaian Hajad Dalem Sekaten dan Garebeg Mulud Be 1960/2026.

Apa itu Prosesi Penabuhan Gamelan Pusaka di Sekaten?

Penabuhan gamelan pusaka sebagai inti tradisi Sekaten Keraton Yogyakarta

Penabuhan gamelan pusaka adalah bagian inti dari Hajad Dalem Sekaten, tradisi tahunan Keraton Yogyakarta untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Dua gamelan sekati — Kangjeng Kyai Guntur Madu dan Kangjeng Kyai Nagawilaga — dibunyikan bergantian di halaman Masjid Gedhe selama sepekan penuh sebagai media syiar sekaligus pelestarian budaya Jawa.

Kronologi: Dari Miyos Gangsa ke Penabuhan Hari Ini

Prosesi Miyos Gangsa membawa gamelan pusaka menuju Pagongan Masjid Gedhe

Rangkaian dimulai Rabu, 19 Agustus 2026, melalui prosesi Miyos Gangsa. Dalam prosesi ini, kedua gamelan pusaka dikeluarkan dari Bangsal Pancaniti, dikawal empat bregada prajurit keraton — Langenkusuma, Suranata, Prawiratama, dan Jagakarya — melintasi Pagelaran menuju Pagongan Masjid Gedhe. Masyarakat umum diberi kesempatan menyaksikan langsung prosesi ini di Kagungan Dalem Pagelaran mulai pukul 19.30 WIB, sebuah keistimewaan mengingat akses serupa tidak selalu dibuka setiap tahun.

Sebelum iring-iringan berangkat, utusan dalem menyebar udhik-udhik berupa beras, uang logam, biji-bijian, dan bunga pada pukul 20.00 WIB sebagai simbol permohonan kemakmuran bagi para wiyaga (penabuh gamelan) dan masyarakat. Warga yang hadir turut dibagikan lilin, dinyalakan tepat saat gamelan menuruni Siti Hinggil — momen yang oleh banyak pengunjung digambarkan sebagai puncak kesakralan Miyos Gangsa.

Setibanya di Masjid Gedhe, Kangjeng Kyai Guntur Madu ditempatkan di Pagongan Kidul, sementara Kangjeng Kyai Nagawilaga di Pagongan Lor. Sejak hari ini, 20 Agustus 2026, kedua gamelan mulai ditabuh bergantian pada pagi, siang, dan malam hari hingga 25 Agustus 2026, dengan beberapa jeda waktu tidak ditabuh sesuai pakem keraton.

Mengapa Prosesi Ini Tetap Digelar Sederhana Tahun Ini?

Rangkaian Sekaten 2026 digelar sederhana namun tetap mempertahankan tradisi

Sesuai dhawuh dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X pada Garebeg Besar 27 Mei 2026, rangkaian Garebeg — termasuk puncak Garebeg Mulud tahun ini — kembali disederhanakan. Bupati Nayaka Keraton Yogyakarta, KRT Kusumanegara, menegaskan arahan tersebut tidak berubah dari tahun sebelumnya. Konsekuensinya, puncak Garebeg Mulud pada 26 Agustus 2026 akan berlangsung tertutup tanpa arak-arakan gunungan besar-besaran; sedekah raja kepada rakyat digantikan pembagian ubarampe pareden berupa rengginang secara terbatas kepada Abdi Dalem.

Meski demikian, akses publik justru diperluas untuk Miyos Gangsa — kompensasi yang membuat masyarakat tetap bisa merasakan kesakralan tradisi ini secara langsung, meski format puncaknya lebih ringkas dibanding tahun-tahun sebelum revitalisasi kawasan keraton.

Praktik menyederhanakan prosesi besar sambil membuka akses pada ritual intinya juga terlihat pada tradisi keraton lain di Jawa, seperti tradisi Grebeg Suro Ponorogo yang tetap mempertahankan esensi ritual meski skala kirab disesuaikan tiap tahun.

Jadwal Lengkap Rangkaian Sekaten 2026

Lokasi Pagongan Kidul dan Pagongan Lor untuk penabuhan gamelan Sekaten 2026
TanggalProsesiKeterangan
19 Agustus 2026Miyos GangsaGamelan pusaka keluar dari Bangsal Pancaniti, publik bisa saksikan di Pagelaran pukul 19.30 WIB
20–25 Agustus 2026Penabuhan Gamelan SekatiDitabuh bergantian pagi, siang, malam di Pagongan Kidul & Lor
25 Agustus 2026Kondur GangsaGamelan pusaka dikembalikan ke dalam keraton, penanda puncak rangkaian Sekaten
26 Agustus 2026Garebeg MuludPuncak peringatan Maulid Nabi, digelar sederhana dan tertutup

Sumber: Harian Jogja, Beritasatu, Viva Jogja — diverifikasi 20 Agustus 2026.

Makna di Balik Tradisi: Warisan Sultan Agung untuk Syiar Islam

Lokasi Pagongan Kidul dan Pagongan Lor untuk penabuhan gamelan Sekaten 2026

Sekaten diwariskan sejak era Sultan Agung Hanyakrakusuma sebagai media dakwah — bunyi gamelan di halaman masjid dahulu digunakan untuk menarik masyarakat berkumpul sebelum diperkenalkan pada ajaran Islam. Pola akulturasi budaya-agama semacam ini juga tampak jelas pada seni pertunjukan Jawa lain yang lahir dari lingkungan keraton, seperti wayang kulit yang sarat filosofi dan pesan moral — sama-sama menempatkan seni sebagai jembatan nilai spiritual ke masyarakat luas.

Status Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai bagian dari situs warisan dunia UNESCO “The Cosmological Axis of Yogyakarta and its Historic Landmarks” sejak 2023 turut memperkuat posisi Sekaten bukan sekadar perayaan lokal, melainkan warisan budaya bertaraf global yang tetap dijaga otentisitasnya hingga kini.

Cara Menyaksikan Penabuhan Gamelan Pusaka

Gamelan Sekaten sebagai bagian dari warisan budaya dan syiar Islam Jawa
  1. Datang ke Masjid Gedhe Kauman: Penabuhan berlangsung di Pagongan Kidul dan Pagongan Lor, di halaman masjid ini, sepanjang 20–25 Agustus 2026.
  2. Perhatikan jam tabuhan: Gamelan dibunyikan pada sesi pagi, siang, dan malam — namun ada jeda waktu tertentu tidak ditabuh, jadi cek jadwal harian setempat sebelum berangkat.
  3. Nikmati suasana pasar rakyat: Selama rangkaian ini, pengunjung juga bisa menjajal kuliner khas seperti sego gurih, endog abang, sate gajih, dan roti kembang waru, serta permainan tradisional seperti kapal thot-thot dan pecut Sekaten.
  4. Ikuti hingga Kondur Gangsa: Bagi yang ingin melihat siklus penuh, prosesi kembalinya gamelan ke keraton pada 25 Agustus 2026 layak disaksikan sebagai penutup rangkaian sebelum Garebeg Mulud.

Momentum Sekaten ini juga berdekatan dengan agenda budaya Yogyakarta lain sepanjang Agustus, termasuk berbagai festival budaya daerah yang turut memeriahkan kalender wisata nasional, menegaskan Agustus sebagai bulan sarat perayaan tradisi di berbagai penjuru Indonesia.

FAQ — Penabuhan Gamelan Pusaka Keraton Jogja

Apa nama dua gamelan pusaka yang ditabuh di Sekaten 2026?

Kangjeng Kyai Guntur Madu, ditempatkan di Pagongan Kidul, dan Kangjeng Kyai Nagawilaga di Pagongan Lor Masjid Gedhe Kauman.

Kapan gamelan pusaka mulai ditabuh?

Penabuhan dimulai 20 Agustus 2026, sehari setelah prosesi Miyos Gangsa pada 19 Agustus, dan berlangsung hingga 25 Agustus 2026.

Apakah masyarakat umum boleh menyaksikan langsung?

Ya. Untuk Miyos Gangsa, publik bisa menyaksikan di Kagungan Dalem Pagelaran mulai pukul 19.30 WIB. Untuk penabuhan harian, masyarakat bisa datang langsung ke halaman Masjid Gedhe Kauman.

Mengapa Garebeg Mulud tahun ini digelar sederhana?

Sesuai dhawuh dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X sejak Garebeg Besar 27 Mei 2026, format sederhana tanpa arak-arakan gunungan besar diterapkan konsisten pada seluruh rangkaian Garebeg tahun ini.


Ditulis oleh Tim Redaksi sisco78dvd, mengacu pada liputan lapangan Harian Jogja, Tribunjogja, Beritasatu, dan Viva Jogja.

Related Posts