“Dari segumpal tanah liat, tangan-tangan perajin Kasongan bukan hanya menciptakan kendi dan guci, tetapi juga menjaga sebuah tradisi yang sudah hidup selama hampir dua abad.”
sisco78dvd – Yogyakarta tidak hanya dikenal dengan Malioboro, Keraton, atau deretan kulinernya yang selalu bikin orang ingin kembali. Di bagian selatan kota, tepatnya di Kabupaten Bantul, ada satu kawasan yang punya identitas sangat kuat dengan tanah liat. Namanya Kasongan, sebuah sentra kerajinan gerabah yang sudah lama menjadi salah satu ikon ekonomi kreatif sekaligus wisata budaya Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kasongan secara administratif berada di wilayah Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul. Lokasinya sekitar tujuh kilometer ke arah selatan dari pusat Kota Yogyakarta, sehingga relatif mudah dijangkau wisatawan. Ketika memasuki kawasan ini, suasananya cukup distinctive. Di sepanjang jalan, berbagai showroom dan bengkel produksi memajang guci, pot tanaman, patung, vas, peralatan rumah tangga hingga dekorasi berukuran besar.
Gerabah Kasongan bukan sekadar produk souvenir yang muncul karena industri pariwisata Yogyakarta berkembang. Tradisinya jauh lebih tua. Penelitian mengenai sejarah keramik Kasongan mencatat kegiatan membuat gerabah di kawasan tersebut telah berlangsung setidaknya sejak masa Perang Diponegoro pada 1825–1830. Pada masa awal, masyarakat membuat barang sederhana untuk kebutuhan sehari-hari seperti kuali, pengaron, kendil, anglo dan cobek.
Dari barang rumah tangga sederhana itulah perjalanan panjang Kasongan dimulai.
Dari Peralatan Dapur Menjadi Sentra Kerajinan
Pada awal perkembangannya, masyarakat Kasongan tentu belum membayangkan bahwa tanah liat yang mereka bentuk suatu hari akan menjadi komoditas kerajinan yang dikenal hingga luar negeri.
Gerabah dibuat karena kebutuhan praktis. Masyarakat membutuhkan wadah memasak, tempat menyimpan air, tungku dan berbagai alat rumah tangga. Tanah liat menjadi material yang mudah dibentuk sekaligus relatif tersedia di lingkungan sekitar.
Benda-benda yang dibuat pun sangat functional. Tidak ada kebutuhan menciptakan dekorasi rumit ataupun mengikuti tren interior seperti sekarang.
Namun keterampilan tersebut terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Perlahan, teknik pembuatan berkembang. Perajin mulai mencoba bentuk baru, ukuran baru hingga ornamentasi yang membuat produknya memiliki nilai artistik lebih tinggi.
Dalam perjalanan selanjutnya, fungsi gerabah Kasongan mengalami transformasi besar. Produk yang tadinya mainly digunakan untuk dapur kemudian berkembang menjadi barang dekorasi, cenderamata dan produk interior.
Perubahan tersebut menjadi turning point.
Kasongan tidak lagi dikenal hanya sebagai kampung pembuat periuk.
Ia berubah menjadi sentra seni keramik dan gerabah.
Ada Legenda Kuda Milik Belanda
Sejarah populer Kasongan juga memiliki satu cerita yang cukup unik.
Menurut kisah yang diwariskan masyarakat dan dimuat dalam informasi pariwisata Pemerintah DIY, perkembangan permukiman perajin dikaitkan dengan peristiwa matinya seekor kuda milik seorang pejabat atau reserse Belanda di atas tanah milik warga.
Pemilik tanah disebut takut dianggap bertanggung jawab atas kematian kuda tersebut. Karena khawatir mendapatkan hukuman, ia melepaskan hak atas tanahnya.
Tindakan itu kemudian diikuti sejumlah warga lain.
Tanah-tanah yang ditinggalkan lalu dikuasai warga lain, sementara sebagian masyarakat yang kehilangan lahan mulai mencari sumber penghidupan alternatif. Salah satu aktivitas yang berkembang adalah mengolah tanah liat menjadi mainan serta perlengkapan dapur.
Cerita tersebut sudah menjadi bagian dari folklore Kasongan.
Namun seperti banyak kisah tradisional, cerita kuda Belanda lebih tepat dipahami sebagai sejarah populer yang hidup di masyarakat, bukan satu-satunya penjelasan akademik mengenai lahirnya industri gerabah di sana.
Catatan akademis menunjukkan aktivitas pembuatan gerabah di Kasongan memang telah berlangsung sejak abad ke-19 dan berkembang melalui kebutuhan ekonomi masyarakat setempat.
Dua cerita tersebut kemudian sama-sama membentuk identitas Kasongan saat ini.
Tanah Liat Tidak Langsung Jadi Guci

Kalau melihat produk gerabah yang sudah selesai dipajang di showroom, proses pembuatannya mungkin kelihatan sederhana.
Padahal perjalanan dari tanah liat sampai menjadi guci bisa cukup panjang.
Perajin terlebih dahulu menyiapkan bahan tanah liat dan mengolahnya agar memiliki tekstur yang sesuai. Tanah harus cukup plastis sehingga bisa dibentuk, tetapi juga tidak terlalu lembek karena bentuknya akan sulit dipertahankan.
Setelah bahan siap, proses pembentukan dimulai.
Untuk produk berbentuk bulat seperti pot, kendi atau vas, perajin bisa menggunakan meja putar. Tanah ditempatkan di bagian tengah, kemudian diputar sambil ditekan dan ditarik perlahan menggunakan tangan.
Tahap ini membutuhkan feeling yang sangat kuat.
Tekanan terlalu besar bisa membuat dinding gerabah ambruk.
Terlalu tipis juga berisiko membuat benda pecah ketika dikeringkan atau dibakar.
Itulah kenapa kemampuan seorang perajin sebenarnya sulit digantikan sekadar dengan melihat tutorial.
Gerakan tangan yang tampak effortless biasanya merupakan hasil pengalaman bertahun-tahun.
Pengeringan Menjadi Tahap Penting
Setelah bentuk dasar selesai, gerabah tidak bisa langsung dimasukkan ke dalam tungku.
Produk harus melalui tahap pengeringan terlebih dahulu.
Kandungan air di dalam tanah liat perlu berkurang secara perlahan. Kalau gerabah yang masih terlalu basah langsung dibakar pada suhu tinggi, air di dalam material bisa berubah menjadi uap dengan cepat dan membuat produk retak bahkan pecah.
Karena itulah proses drying menjadi salah satu tahap yang menentukan kualitas hasil akhir.
Cuaca juga bisa ikut memengaruhi pekerjaan para perajin tradisional.
Ketika matahari cukup terik, pengeringan naturally bisa berlangsung lebih cepat. Sebaliknya, musim hujan dapat memperlambat proses produksi karena kelembapan udara lebih tinggi.
Setelah cukup kering, barulah gerabah memasuki proses pembakaran.
Pembakaran akan mengubah tanah liat yang sebelumnya rapuh dan mudah kembali lunak ketika terkena air menjadi material keras dan permanen.
Warna khas terracotta yang identik dengan Kasongan juga mulai terlihat pada tahap ini.
Warna Terracotta Jadi Identitas Kasongan
Salah satu karakter yang paling mudah dikenali dari gerabah Kasongan adalah nuansa warnanya.
Cokelat tanah, merah bata dan terracotta menjadi warna yang sangat identik dengan produk dari kawasan tersebut.
Warna itu muncul dari karakter tanah liat sekaligus proses pembakarannya.
Namun gerabah Kasongan modern tidak lagi terbatas pada tampilan natural.
Perajin sekarang menggunakan berbagai teknik finishing. Ada produk yang diberi cat, dipoles, dibuat menyerupai benda antik atau dikombinasikan dengan material lain.
Perkembangan desain membuat pilihan produknya semakin luas.
Wisatawan bisa menemukan kendi kecil seharga relatif terjangkau sampai patung dan guci besar yang dibuat sebagai elemen interior hotel, restoran maupun rumah.
Kasongan pun berhasil melakukan sesuatu yang tidak selalu mudah bagi produk tradisional: tetap mempertahankan identitas sekaligus mengikuti market.
Produk Kasongan Tidak Lagi Hanya Kendi
Kalau datang ke Kasongan sekarang, kemungkinan besar orang akan menemukan jauh lebih banyak barang selain kendi dan kuali.
Showroom di kawasan tersebut menawarkan pot bunga, vas, guci, lampu hias, patung binatang, tempat lilin, dekorasi dinding hingga air mancur.
Ada pula produk yang membawa unsur budaya Jawa seperti patung Loro Blonyo.
Loro Blonyo merupakan pasangan patung pria dan wanita dalam tradisi Jawa yang sering digunakan sebagai elemen dekoratif. Bentuk ini kemudian menjadi salah satu produk yang cukup familiar di sentra Kasongan.
Pemerintah DIY juga mencatat kerajinan yang dijual di sepanjang kawasan Kasongan mencakup keramik guci, pot, terracotta, air mancur, Loro Blonyo hingga patung Buddha.
Keragaman produk itulah yang membuat Kasongan bisa menjangkau berbagai segmen pasar.
Orang bisa datang untuk membeli souvenir kecil.
Interior designer bisa mencari decorative pieces.
Hotel dan restoran bisa memesan pot atau patung dalam jumlah besar.
Sementara buyer internasional bisa melakukan pemesanan untuk pasar ekspor.
Kreativitas Membuat Kasongan Naik Kelas
Transformasi Kasongan dari sentra peralatan rumah tangga menjadi kawasan kerajinan artistik tidak terjadi dalam semalam.
Salah satu bagian penting sejarah tersebut adalah masuknya pendekatan desain dan seni yang lebih kuat.
Kajian dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta mencatat perkembangan gerabah Kasongan secara bertahap membawa produk lokal dari bentuk-bentuk sederhana menuju kerajinan yang memiliki karakteristik artistik dan budaya daerah.
Pada dekade-dekade berikutnya, hubungan antara perajin dan dunia seni Yogyakarta semakin erat.
Ini merupakan kombinasi yang cukup powerful.
Kasongan memiliki kemampuan craftsmanship yang diwariskan antargenerasi.
Yogyakarta di sisi lain mempunyai ekosistem seniman, desainer dan akademisi seni yang sangat aktif.
Ketika dua dunia tersebut bertemu, desain gerabah Kasongan menjadi semakin diverse.
Ada karya tradisional.
Ada desain minimalis.
Ada benda dekoratif bernuansa etnik.
Ada pula bentuk kontemporer yang sengaja dibuat untuk mengikuti selera interior modern.
Dari Bantul hingga Pasar Internasional
Perjalanan gerabah Kasongan juga menunjukkan bagaimana kerajinan tradisional bisa berkembang menjadi bagian dari industri kreatif.
Produk Kasongan tidak hanya dipasarkan kepada wisatawan domestik.
Sejumlah perajin telah mengembangkan produk untuk pasar ekspor. Penelitian dan kegiatan pendampingan UMKM di kawasan tersebut mencatat hasil gerabah Kasongan sudah menjangkau pasar Eropa dan Amerika.
Permintaan internasional tentu memberikan peluang ekonomi besar.
Namun standar pasar ekspor juga mempunyai challenge sendiri.
Ukuran harus konsisten.
Finishing harus sesuai pesanan.
Produk harus cukup kuat untuk perjalanan ribuan kilometer.
Packaging juga menjadi persoalan penting karena gerabah inherently merupakan barang yang mudah pecah.
Seorang perajin tidak lagi cukup hanya mahir membentuk tanah.
Mereka juga harus memahami quality control, packaging, logistics sampai komunikasi dengan buyer.
Dengan kata lain, industri gerabah Kasongan sekarang sudah berada di intersection antara tradisi dan bisnis modern.
Kasongan Juga Menjadi Wisata Edukasi
Daya tarik Kasongan tidak berhenti pada kegiatan belanja.
Wisatawan juga bisa melihat langsung proses produksinya.
Beberapa workshop memungkinkan pengunjung menyaksikan bagaimana tanah liat diolah, dibentuk, dikeringkan dan diberi finishing. Informasi pariwisata Pemerintah DIY bahkan menyebut wisatawan dapat mengunjungi workshop untuk melihat proses pembuatan gerabah dari awal hingga menjadi produk akhir.
Di sejumlah tempat, pengunjung juga bisa mencoba membuat gerabah sendiri.
Experience seperti ini membuat Kasongan cocok sebagai wisata edukasi.
Anak-anak bisa mengetahui bahwa sebuah mangkuk tidak muncul begitu saja dari mesin pabrik.
Mereka bisa menyentuh tanah liat.
Mencoba membentuknya.
Dan memahami bahwa sebuah produk handmade membutuhkan keterampilan serta kesabaran.
Buat wisatawan dewasa, pengalaman tersebut juga memberikan appreciation berbeda ketika melihat harga sebuah karya.
Produk handmade tidak hanya dihitung dari harga bahan bakunya.
Ada waktu, pengalaman dan keterampilan manusia di dalamnya.
Perajin Disebut Kundi
Dalam tradisi setempat, perajin gerabah juga dikenal dengan sebutan kundi.
Istilah tersebut melekat pada masyarakat yang mempunyai keterampilan mengolah tanah liat menjadi berbagai benda.
Kasongan kemudian berkembang menjadi semacam living workshop.
Di satu rumah terdapat proses pembentukan.
Beberapa rumah berikutnya mempunyai tungku pembakaran.
Di pinggir jalan terdapat showroom.
Sementara kendaraan pengangkut barang keluar masuk membawa hasil produksi.
Atmosfer seperti inilah yang membuat Kasongan berbeda dari toko souvenir biasa.
Wisatawan bukan hanya melihat hasil akhir.
Mereka datang ke lingkungan di mana produk tersebut benar-benar dibuat.
Tradisi yang Harus Berhadapan dengan Zaman
Meski sudah terkenal, industri gerabah Kasongan tetap menghadapi berbagai tantangan.
Perubahan selera konsumen menjadi salah satunya.
Interior rumah modern cenderung bergerak cepat mengikuti tren. Produk dengan desain yang populer beberapa tahun lalu belum tentu masih diminati sekarang.
Perajin akhirnya harus terus melakukan innovation tanpa kehilangan karakter Kasongan.
Persaingan juga semakin luas.
Produk dekorasi berbahan plastik, resin, logam dan keramik industrial bisa dibuat dalam jumlah sangat besar dengan harga kompetitif.
Sementara gerabah handmade membutuhkan proses yang jauh lebih panjang.
Ada pula tantangan regenerasi.
Tidak semua anak perajin otomatis ingin meneruskan pekerjaan orang tuanya.
Generasi muda memiliki pilihan pekerjaan yang jauh lebih beragam. Kalau penghasilan dari kerajinan tidak cukup attractive, transfer keterampilan antargenerasi bisa semakin sulit.
Karena itu, keberlanjutan Kasongan tidak cukup hanya mengandalkan romantisme “warisan budaya”.
Kerajinan ini juga harus economically viable bagi orang yang membuatnya.
Digitalisasi Membuka Pasar Baru
Internet menjadi salah satu peluang terbesar bagi perajin.
Dulu seorang pengusaha gerabah sangat bergantung pada wisatawan yang datang ke showroom atau buyer yang mempunyai jaringan langsung dengan sentra.
Sekarang Instagram, WhatsApp, marketplace dan platform digital memungkinkan produk dipasarkan tanpa menunggu orang datang ke Kasongan.
Pendampingan kepada pelaku usaha Kasongan bahkan sudah menyoroti pentingnya penggunaan media sosial untuk memperluas pemasaran, terutama setelah perubahan pola belanja masyarakat pada masa pandemi.
Digital marketing memang tidak otomatis menyelesaikan seluruh persoalan.
Gerabah tetap mempunyai challenge pengiriman karena rentan pecah dan sejumlah produknya berukuran besar.
Namun internet membuat storytelling menjadi jauh lebih mudah.
Pembeli tidak hanya bisa melihat guci.
Mereka bisa melihat siapa yang membuatnya.
Bagaimana tanah dibentuk.
Bagaimana benda dibakar.
Dan bagaimana satu keluarga mempertahankan keterampilan yang sudah diwariskan selama puluhan tahun.
Untuk produk handmade, cerita semacam itu mempunyai value.
Gerabah Kasongan Bukan Sekadar Oleh-Oleh Jogja
Menyebut gerabah Kasongan hanya sebagai souvenir sebenarnya terasa terlalu sederhana.
Di balik setiap produk terdapat sejarah panjang perubahan masyarakat.
Dari orang-orang yang awalnya memanfaatkan tanah untuk membuat perkakas rumah tangga, Kasongan berkembang menjadi sentra kerajinan yang produknya bisa ditemukan di rumah, hotel, restoran hingga pasar internasional.
Lebih dari itu, kerajinan tersebut memberikan identitas kepada sebuah kawasan.
Orang menyebut Kasongan, orang langsung ingat gerabah.
Tidak semua desa mempunyai branding alami sekuat itu.
Dan branding tersebut tidak dibangun melalui campaign marketing satu atau dua tahun.
Ia terbentuk lewat generasi.
Lewat ribuan tungku yang dinyalakan.
Lewat tangan para kundi yang setiap hari berhadapan dengan tanah.
Menjaga Kasongan Berarti Menjaga Pengetahuan
Pada akhirnya, nilai terbesar Gerabah Kasongan mungkin bukan berada pada guci yang terpajang di sebuah ruang tamu.
Nilainya ada pada knowledge yang hidup di masyarakat.
Perajin tahu bagaimana memilih tanah.
Mereka tahu kapan material sudah cukup lentur.
Tahu bagaimana memberikan tekanan dengan tangan.
Tahu kapan sebuah gerabah cukup kering untuk masuk tungku.
Dan bisa membaca hasil pembakaran dari warna maupun teksturnya.
Pengetahuan seperti itu sulit sepenuhnya dituliskan dalam buku.
Sebagian besar lahir dari pengalaman dan kemudian diwariskan melalui praktik langsung.
Itulah mengapa regenerasi perajin menjadi sangat penting.
Ketika satu generasi berhenti membuat gerabah tanpa meneruskan keterampilannya, yang hilang bukan sekadar satu jenis pekerjaan.
Ada pengetahuan budaya yang ikut hilang.
Kasongan berhasil bertahan sejauh ini karena masyarakatnya terus melakukan adaptasi.
Dari kuali menjadi guci.
Dari alat dapur menjadi dekorasi.
Dari pasar lokal menuju ekspor.
Dari showroom fisik menuju media sosial.
Namun material dasarnya tetap sama: tanah.
Hampir dua abad setelah tradisi gerabah berkembang di wilayah tersebut, tangan-tangan perajin Kasongan masih melakukan sesuatu yang kurang lebih sama seperti pendahulunya.
Mengambil tanah yang terlihat biasa.
Membentuknya perlahan.
Mengeringkannya.
Membakarnya.
Kemudian mengubah sesuatu yang awalnya hanya berupa lumpur menjadi benda yang mempunyai fungsi, estetika dan nilai ekonomi.
Itulah kenapa Gerabah Kasongan masih menarik dibicarakan sampai sekarang.
Bukan sekadar karena produknya cantik.
Tetapi karena ia membuktikan bahwa sebuah tradisi bisa tetap hidup selama masyarakatnya mau terus beradaptasi tanpa sepenuhnya meninggalkan akar mereka.
Referensi
Institut Seni Indonesia Yogyakarta — Historisitas Desa Gerabah Kasongan. Kajian mencatat kegiatan pembuatan gerabah di Kasongan telah berlangsung sejak masa Perang Diponegoro 1825–1830 dan kemudian berkembang dari produk rumah tangga menjadi kerajinan serta cenderamata.
Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta — Desa Wisata Kasongan. Informasi lokasi, sejarah populer, jenis produk dan aktivitas workshop gerabah Kasongan.
Universitas Pendidikan Indonesia — Kunjungan ke Pusat Gerabah Kasongan, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul.
UKM Indonesia — Mengenal Sentra Kerajinan Gerabah Kasongan di Bantul, Jadi Destinasi Wisata Edukasi dan Budaya.
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta — Pendampingan Manajemen Pelayanan dan Promosi Usaha Kerajinan Gerabah Kasongan Melalui Media Sosial.