sisco78dvd.com, 5 MEI 2025
Penulis: Riyan Wicaksono
Editor: Muhammad Kadafi
Tim Redaksi: Diplomasi Internasional Perusahaan Victory88
Malta, sebuah negara kepulauan kecil di jantung Laut Mediterania, adalah perpaduan luar biasa antara sejarah kuno, budaya yang kaya, dan keindahan alam yang memukau. Dengan luas wilayah hanya 316 km² dan populasi sekitar 542.000 jiwa pada Mei 2025, Malta terdiri dari tiga pulau utama—Malta, Gozo, dan Comino—yang telah menjadi persimpangan budaya selama ribuan tahun. Dipengaruhi oleh peradaban Fenisia, Romawi, Arab, Ksatria St. John, Prancis, dan Inggris, Malta memiliki warisan seni dan tradisi yang mencerminkan identitas Mediterania yang unik, diwarnai oleh agama Katolik yang kuat dan sejarah maritimnya.
Seni Malta terkenal karena arsitektur barok, lukisan religi, dan kerajinan tradisional, sementara tradisinya mencakup festival keagamaan yang meriah, kuliner khas, dan musik folklorik. Sebagai anggota Uni Eropa (UE) sejak 2004, Malta berhasil memadukan pelestarian budaya dengan modernisasi, menjadikan seni dan tradisinya daya tarik utama bagi 2,7 juta wisatawan tahunan (2023). Artikel ini menyajikan analisis mendalam tentang seni dan tradisi Malta, mencakup sejarah budaya, bentuk seni utama, tradisi masyarakat, pengaruh agama, tantangan pelestarian, serta peran pariwisata dalam mempromosikan warisan budaya hingga Mei 2025. Dengan pendekatan profesional, rinci, dan jelas, artikel ini bertujuan memberikan wawasan komprehensif tentang kekayaan budaya Malta.
Latar Belakang Sejarah dan Budaya Malta 
Sejarah Budaya Malta
Sejarah Malta dimulai dari peradaban megalitik sekitar 5.900 SM, yang meninggalkan kuil-kuil seperti Ġgantija dan Ħal Saflieni Hypogeum, situs warisan dunia UNESCO. Pengaruh budaya berlanjut melalui Fenisia (sekitar 800 SM), Romawi (218 SM), dan Bizantium, sebelum masuknya Islam pada abad ke-9 membawa pengaruh Arab dalam bahasa dan arsitektur. Pada 1530, Ksatria St. John (Knights Hospitaller) menguasai Malta, memperkenalkan seni barok, arsitektur benteng, dan tradisi Katolik yang mendominasi hingga kini. Pemerintahan Inggris (1814–1964) menambahkan elemen bahasa Inggris, sistem hukum, dan tradisi sipil, sementara kemerdekaan pada 1964 memperkuat identitas nasional Malta.
Katolik Roma, yang dianut oleh 93,9% penduduk, adalah tulang punggung budaya Malta, membentuk seni religi, festival, dan kehidupan sosial. Bahasa Malta, perpaduan unik antara akar Semitik (Arab) dan pengaruh Latin (Italia), serta bahasa Inggris sebagai bahasa resmi kedua, mencerminkan keragaman budaya. Pariwisata, yang menyumbang 24% PDB pada 2023, telah mempromosikan seni dan tradisi Malta secara global, meskipun menimbulkan tantangan pelestarian.
Pengaruh Budaya

Budaya Malta adalah perpaduan:
-
Katolik Roma: Membentuk seni religi, festival keagamaan, dan moral masyarakat.
-
Mediterania: Tercermin dalam kuliner, musik, dan gaya hidup yang santai.
-
Arab: Mempengaruhi bahasa Malta, arsitektur masjid awal, dan pola dekoratif.
-
Eropa (Italia dan Inggris): Terlihat dalam seni barok, arsitektur benteng, dan sistem pendidikan.
-
Maritim: Mendorong tradisi pelayaran, kerajinan perahu, dan cerita rakyat laut.
Bentuk Seni di Malta
Seni Malta mencerminkan sejarahnya yang panjang dan keterbatasan sumber daya pulau, dengan fokus pada arsitektur, lukisan, dan kerajinan yang diwarnai nilai-nilai religi.
1. Arsitektur 
Arsitektur adalah bentuk seni paling menonjol di Malta, dengan pengaruh megalitik, barok, dan kolonial:
-
Kuil Megalitik: Kuil seperti Ġgantija (Gozo) dan Ħaġar Qim (Malta), dibangun sekitar 3600–2500 SM, adalah struktur berdiri bebas tertua di dunia. Batu kapur diukir dengan motif spiral dan digunakan untuk ritual prasejarah.
-
Arsitektur Barok: Dibawa oleh Ksatria St. John, arsitektur barok mendominasi Valletta, ibukota yang merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO. Contohnya:
-
St. John’s Co-Cathedral: Katedral abad ke-16 dengan interior emas, marmer, dan lukisan dinding.
-
Auberges: Kediaman Ksatria, seperti Auberge de Castille, menampilkan fasad megah dan detail ornamen.
-
-
Benteng dan Fortifikasi: Benteng seperti Fort St. Elmo dan Fort St. Angelo mencerminkan kebutuhan pertahanan maritim, dengan desain fungsional namun estetis.
-
Arsitektur Kolonial Inggris: Gedung-gedung seperti Valletta’s Royal Opera House (sebelum dihancurkan pada Perang Dunia II) menunjukkan pengaruh neoklasik.
-
Tips untuk Wisatawan: Ikuti tur arsitektur di Valletta dengan Heritage Malta untuk memahami evolusi gaya bangunan.
2. Lukisan dan Seni Visual 
Lukisan Malta didominasi oleh seni religi yang dipengaruhi barok:
-
Caravaggio: Pelukis barok terkenal tinggal di Malta pada 1607–1608, meninggalkan karya seperti The Beheading of St. John the Baptist di St. John’s Co-Cathedral. Gaya chiaroscuro-nya memengaruhi seniman lokal.
-
Seniman Lokal: Mattia Preti, dikenal sebagai “Ksatria Pelukis,” menghias katedral dengan fresko-fresko epik. Seniman modern seperti Edward Caruana Dingli (abad ke-20) mengembangkan potret dan lanskap nasionalis.
-
Seni Kontemporer: Galeri seperti Spazju Kreattiv di Valletta memamerkan karya seniman muda yang menggabungkan tema Mediterania dengan isu global seperti perubahan iklim.
-
Tips: Kunjungi National Museum of Fine Arts (MUŻA) di Valletta untuk koleksi lukisan dari abad ke-16 hingga kini.
3. Kerajinan Tangan 
Kerajinan Malta menggunakan bahan lokal seperti kapur, kaca, dan perak:
-
Filigree Perak: Perhiasan filigree, dengan pola rumit seperti salib Malta, adalah kerajinan khas. Pengrajin di Valletta dan Mdina menghasilkan anting, bros, dan liontin.
-
Kaca Mdina: Kaca berwarna buatan tangan dari Mdina Glass terkenal dengan motif laut dan api. Produk seperti vas dan lampu populer sebagai suvenir.
-
Anyaman dan Tekstil: Tikar anyaman dari daun palem dan kain renda (bizzilla) digunakan untuk dekorasi rumah atau busana gereja. Renda Gozo terkenal karena pola bunga dan salibnya.
-
Tips: Belanja di Ta’ Qali Crafts Village untuk kerajinan otentik, dan hindari produk impor murah di pasar turis.
4. Musik dan Seni Pertunjukan 
Musik Malta mencerminkan akar Mediterania dan pengaruh Eropa:
-
Għana: Musik folklorik tradisional yang dinyanyikan dalam bahasa Malta, sering berupa duel vokal (spirtu pront) tentang cinta, kerja, atau sindiran sosial. Għana diiringi gitar dan kadang-kadang akordeon.
-
Musik Barok dan Klasik: Dipengaruhi Ksatria St. John, musik barok berkembang di gereja. Valletta Baroque Festival (Januari) menampilkan karya Bach dan Vivaldi.
-
Teater: Manoel Theatre di Valletta, dibangun pada 1731, adalah salah satu teater tertua di Eropa yang masih aktif, menggelar opera, drama, dan balet.
-
Seni Kontemporer: Band lokal seperti The Busker menggabungkan pop dengan elemen għana, tampil di festival seperti Malta Jazz Festival.
-
Tips: Hadiri pertunjukan għana di kafe tradisional di Rabat atau ikuti konser di Manoel Theatre.
5. Literatur dan Puisi
Literatur Malta, ditulis dalam bahasa Malta dan Inggris, mencerminkan identitas nasional:
-
Puisi Epik: Karya seperti Il-Kantilena (abad ke-15) oleh Pietru Caxaro adalah puisi tertua dalam bahasa Malta, menggambarkan kehidupan Mediterania.
-
Sastra Modern: Penulis seperti Francis Ebejer dan Immanuel Mifsud mengeksplorasi tema identitas, kolonialisme, dan modernisasi.
-
Tips: Kunjungi National Library di Valletta untuk melihat manuskrip kuno, atau ikuti Malta Book Festival (November) untuk bertemu penulis lokal.
Tradisi Malta
Tradisi Malta berpusat pada agama, komunitas, dan sejarah maritim, dengan festival dan kuliner sebagai pilar utama.
1. Festival Keagamaan (Festa)
Festival keagamaan, atau festa, adalah inti tradisi Malta, merayakan santo pelindung setiap paroki dengan kemeriahan:
-
Prosesi: Patung santo dibawa melalui jalan-jalan yang dihias bendera, lampu, dan karpet bunga. Penduduk setempat berpartisipasi dalam misa dan parade.
-
Kembang Api: Malta terkenal dengan kembang api spektakuler selama festa, diproduksi oleh pyrotechnicians lokal. Festival seperti Feast of St. Peter and St. Paul (L-Imnarja) di Juni menampilkan pertunjukan piroteknik terbaik.
-
Musik dan Pesta: Band kuningan memainkan lagu-lagu gereja dan folk, sementara kios makanan menawarkan pastizzi dan imqaret.
-
Contoh Festa: Feast of Our Lady of Victories (8 September) di Valletta memperingati kemenangan atas Ottoman pada 1565, dengan parade dan kembang api.
-
Tips: Rencanakan kunjungan antara Juni dan September untuk menghadiri festa. Hormati prosesi dengan berpakaian sopan dan tidak mengganggu parade.
2. Kuliner Tradisional
Kuliner Malta adalah perpaduan Mediterania dengan pengaruh Arab, Italia, dan Inggris:
-
Pastizzi: Kue puff isi keju ricotta atau kacang polong, dijual seharga €0,50–1 di toko seperti Crystal Palace di Rabat.
-
Fenkata (Rabbit Stew): Hidangan kelinci yang dimasak dengan anggur, bawang, dan rempah, disajikan di restoran seperti Ta’ Marija di Mosta (€15–20).
-
Ftira: Roti Malta dengan topping tomat, zaitun, dan ikan teri, mirip pizza.
-
Lampuki Pie: Pai ikan lampuki (mahi-mahi), populer di musim gugur.
-
Imqaret: Kue goreng isi kurma, camilan khas festa (€1–2).
-
Minuman: Cisk (bir lokal), Kinnie (soda Malta), dan anggur dari kilang Marsovin.
-
Tips: Coba makanan di Is-Suq Tal-Belt (pasar makanan Valletta) atau restoran lokal di Gozo seperti Ta’ Rikardu untuk pengalaman autentik.
3. Tradisi Pernikahan
Pernikahan Malta adalah perayaan besar yang menggabungkan Katolik dan tradisi lokal:
-
Upacara Gereja: Dilakukan di gereja paroki, sering di St. John’s Co-Cathedral atau St. Paul’s Cathedral di Mdina, dengan misa penuh dan paduan suara.
-
Pesta: Resepsi diadakan di aula desa atau hotel, dengan makanan seperti fenkata, pastizzi, dan kue pengantin bertingkat. Band kuningan atau għana menghibur tamu.
-
Serrata: Tradisi di Gozo di mana keluarga pengantin pria menyanyikan serenade untuk menyambut pengantin wanita.
-
Tips: Jika diundang, kenakan pakaian formal dan bawa hadiah seperti filigree perak atau kaca Mdina.
4. Tradisi Maritim
Sejarah maritim Malta membentuk tradisi pelayaran dan festival laut:
-
Regatta: Lomba dayung tradisional di Grand Harbour pada Hari Kemenangan (8 September) menggunakan perahu dghajsa, mencerminkan warisan pelaut.
-
Cerita Rakyat: Kisah tentang Ksatria St. John dan pertempuran laut diwariskan melalui lagu għana dan drama lokal.
-
Pembuatan Perahu: Perahu luzzu, dengan mata dicat di haluan untuk perlindungan, adalah simbol budaya Malta, terutama di Marsaxlokk.
-
Tips: Kunjungi pasar ikan Marsaxlokk pada Minggu pagi untuk melihat luzzu dan berinteraksi dengan nelayan.
5. Festival dan Komunitas
Selain festa, festival lain memperkuat ikatan komunitas:
-
Malta Carnival (Februari): Parade kostum warna-warni, tarian, dan float di Valletta, dengan tradisi seperti prinjolata (kue karnaval).
-
L-Imnarja (29 Juni): Festival panen di Buskett Gardens dengan pameran pertanian, għana, dan kembang api.
-
Malta International Arts Festival (Juni–Juli): Menampilkan teater, musik, dan seni visual di situs bersejarah.
-
Tips: Pesan tiket festival lebih awal melalui situs resmi seperti visitmalta.com.
Pengaruh Pariwisata pada Seni dan Tradisi
Pariwisata, yang menghasilkan €2,7 miliar pada 2023, memiliki dampak signifikan pada seni dan tradisi Malta:
-
Dampak Positif:
-
Pelestarian: Dana dari pariwisata mendukung restorasi situs seperti St. John’s Co-Cathedral dan produksi kerajinan filigree.
-
Promosi Global: Festival seperti Valletta Baroque Festival dan pameran di MUŻA menarik audiens internasional.
-
Ekonomi Lokal: Pengrajin di Ta’ Qali dan Mdina mendapat pendapatan dari penjualan suvenir.
-
-
Dampak Negatif:
-
Komodifikasi: Beberapa tradisi, seperti għana, disederhanakan untuk turis, mengurangi makna budaya.
-
Tekanan Lingkungan: Keramaian di Valletta dan Mdina menyebabkan kerusakan situs bersejarah.
-
Erosi Autentisitas: Restoran turis sering menyajikan makanan internasional, mengurangi popularitas kuliner lokal.
-
Kebijakan Pemerintah: Kementerian Pariwisata dan Heritage Malta meluncurkan Cultural Heritage Strategy 2020–2030, yang mencakup:
-
Pelatihan pengrajin untuk menjaga teknik tradisional.
-
Promosi festival lokal di pasar turis internasional.
-
Regulasi untuk melindungi situs warisan dari kerusakan akibat pariwisata.
Tantangan Pelestarian Seni dan Tradisi
Meskipun kaya, seni dan tradisi Malta menghadapi tantangan:
-
Modernisasi: Pemuda lebih tertarik pada budaya global (pop, media sosial) daripada għana atau renda bizzilla.
-
Kepadatan Pariwisata: 2,7 juta wisatawan per tahun membebani situs seperti Valletta, menyebabkan kerusakan fisik dan budaya.
-
Keterbatasan Sumber Daya: Bahan seperti perak untuk filigree semakin mahal, dan pengrajin tradisional menurun (hanya 500 pengrajin aktif pada 2024).
-
Penuaan Populasi: Banyak pengrajin dan penyanyi għana berusia lanjut, dengan sedikit penerus.
-
Perubahan Iklim: Kenaikan permukaan laut dan badai mengancam situs pantai seperti benteng Valletta.
Solusi yang Diusulkan:
-
Pendidikan Budaya: Integrasikan seni dan tradisi dalam kurikulum sekolah, seperti program Heritage Malta untuk anak-anak.
-
Digitalisasi: Arsipkan għana, cerita rakyat, dan teknik kerajinan di platform seperti Malta Culture Online.
-
Insentif Pengrajin: Berikan subsidi untuk pelatihan filigree dan kaca Mdina bagi generasi muda.
-
Pariwisata Berkelanjutan: Batasi jumlah pengunjung di situs sensitif dan promosikan tur budaya di Gozo untuk mendistribusikan wisatawan.
-
Konservasi Situs: Investasikan dalam perlindungan situs warisan dari dampak iklim, seperti tembok laut di Valletta.
Kesimpulan
Seni dan tradisi Malta adalah cerminan sejarah panjangnya sebagai persimpangan Mediterania, menggabungkan megalitik, barok, dan pengaruh kolonial dengan identitas Katolik yang kuat. Dari arsitektur megah St. John’s Co-Cathedral hingga melodi għana yang merdu, budaya Malta menawarkan kekayaan yang hidup di tengah keindahan pulau tropisnya. Festival festa, kuliner seperti pastizzi, dan kerajinan filigree memperkuat ikatan komunitas, sementara pariwisata mempromosikan warisan ini ke dunia.
Hingga Mei 2025, Malta menghadapi tantangan modernisasi, pariwisata massal, dan perubahan iklim, tetapi kebijakan pelestarian dan semangat komunitas menjaga tradisi tetap hidup. Bagi wisatawan, menjelajahi seni dan tradisi Malta—melalui festa yang meriah, pasar kerajinan, atau teater bersejarah—adalah cara untuk menghargai warisan yang telah bertahan selama ribuan tahun. Dengan keseimbangan antara pelestarian dan inovasi, Malta akan terus menjadi “permata Mediterania” yang memikat hati dunia.
BACA JUGA: Letak Geografis dan Fisik Alami Negara Maldives
BACA JUGA: Teori Administrasi & Organisasi: Jaringan Organisasi dan Kolaborasi
BACA JUGA: Sejarah Lengkap dan Terinci PUBG Mobile Season 5 2019